Penipuan Zahra (Kartika)
Awalnya aku berkenalan dengan seorang wanita yang mengatakan bahwa namanya Zahra. Sehari setelah perkenalan itu ia terlihat sopan dan santun, karena mungkin terlihat dari raut wajahnya yang sudah tua. Aku beranggapan bahwa ia adalah anak yang soleh karena ia megenakan kerudung, ia juga hidup serba berkecukupan dari segala apa yang ia punya dari mulai handphone mahal yang ia pakai dan laptop yang ia bawa. Setiap kali perkataanku yang aku anggap benar ternyata salah karena menurut Zahra semua itu ada dalilnya dalam Al-Qur’an. Ia taat beribadah dan mengaji, namu selang 1 minggu perkenalan ia mengatakaan dan meminta mohon kepadaku bahwa ia sedang butuh uang dengan jumlah 2.250.000. Aku menanyakan untuk apa uang itu, ia menjawab bahwa uang itu akan dipergunakannya untuk ikut seminar S-2, karena awalnya ia mengatakan bahwa ia jurusan semester akhir statistika UGM. Awalnya aku ragu untuk meminjamkan uang itu, namun ia berjanji dan bersumpah akan mengembalikannya dalam 1 minggu. Karena mungkin ada rasa bahwa yakin ia anak orang kaya tanpa aku pahami uang itu sudah aku serahkan kepadanya. Setelah 1 minggu aku menaggih hutangnya kepadaku namun ia mengatakan tidak bisa membayar karena tantenya sakit struk dan dirawat di RS. Aku maklumi hal itu, namu setelah 1 bulan kemudian ia mengatakan belum bisa membayar karena ia sedang berada di Jakarta. Aku terpaksa menunggu hingga genap 2 bulan, hingga aku bermaksud untuk menagih dengan paksa pada awal bulan ke tiga, namun ia berkata belum bisa membayar karena ia mengatakan bahwa kedua orang tuanya akan bercerai. Aku mulai tidak sabar, dan menanyakan hal ini kepada tetehku. Aku menceritakan semua hal tentang hutang Zahra kepadaku dan alasan-alasan mengapa ia tidak bisa membayar. Namun aku menjadi gelisah dan kesal, karena Zahra berkata lain kepada Teh Cika, memang Teh Cika dan Zahra berteman karena secara kebetulan bertemu di dalam bis. Aku juga kenal Zahra tanpa sengaja dari Teh Cika, Zahra mengatakan bahwa orang tuanya yaitu ayahnya sudah meninggal dunia, sedangkan tantenya masih sehat-sehat saja. Ini membuat aku tidak percaya kepada Zahra pirasatku mengatakan bahwa aku tertipu namun ku butuh kepastian, hingga aku pergi k Jogja untuk mencari alamat Zahra di UGM karena Zahra apabil ku hubungi lewas sms dan telephone selalu di abaikannya. Setelah aku dan teman-temanku mencari selama 2 hari d UGM, ternyata nihil tidak ada nama Zahra itu. Aku menjadi semakin gelisah, hingga Teh Cika mengatakan akan membntuku hingga pada tanggal 24 Desember 2010 Teh Cika dan temanya merencanakan pertemua dengan Zahra di Jogja tepatnya Malioboro di Mirota Batik, akupun bergegas berangkat menuju Jogja dari Solo. Setelah janjian ketemu di Malioboro Zahra mengatakan terlalu ramai dan ia ingin jauh dari keramaian lalu ia memilih tempat di Hotel JEC. Lalu aku dan Teh Cika beserta teman-teman menuju JEC, setelah sampai aku dan Teh Cika bersembunyi menunggu kedantangan Zahra, kami menunggu hampir 1 jam baru ia datang. Setelah ia datang secara diam-diam aku dan temanku memergoki Zahra dan menangkapnya dengan bantuan satpam JEC lalu kami melapor k Polsek terdekat.
Ternyata dari pengakuannya ia bernama Kartika Aprilia Susanti dan ia ternyata hanya sebagai pembantu rumah tangga bukan mahasiswa statisika UGM seperti yang ia katakan, bahkan ia juga mencuri uang majikannya sebesar 5 juta hingga pakaian dalam juga ia curi karena ia sendirian di Jogja, ia telah di usir dari rumahnya dan keluarganya yang sudah tidak menganggap bagian dari kelurga. Semua kemewahan yang ia pamerkan bukan kepunyaannya melaikan titipan dari temannya. Ia berteman dengan mengaku anak asisten dosen UI, hingga temannya percaya, namu Zahra (Tika) mempergunakan kesempatan ini untuk mengambi uang temannya sebesar 1,3 juta. Majikannya berkata ia berkedok dengan solat lima waktu dan mengaji agar terlihat anak yang soleh namun itu semua kedok untuk mengelabui majikannya agar terhindar dari kecurigaan. Jangankan berpikir untuk mengganti uangku baju yang ia kenakanpun juga minjam kesana-kemari. Ternyata semuanya itu palsu, hanya topeng belaka, sungguh berdarah dingin dengan senyuman yang penuh kemaksiatan yang mengatas namakan Iman untuk mengelabui korban incaran.
Celakalah hidupmu di dunia.